Selasa, 18 Maret 2014

Akhlak Islam di Negeri Sekuler






Turki akhirnya menjadi negeri pilihan untuk tujuan ‘mempelajari’ metodologi study Islam, setelah Mesir yang menjadi tujuan semula, dilanda konflik tak kunjung usai. Ternyata betul bahwa semua ada hikmahnya. Dua kali kami direncanakan berangkat ke Mesir, dua kali pula batal. Ternyata Tuhan punya kehendak lain. Dan kehendakNya betul-betul lebih baik. Setidaknya menurut kami. Mengapa? Turki adalah negeri unik. Menjadi pusat pemerintahan Islam selama  kurang lebih 600 tahun, kemudian secara drastis berubah menjadi negara sekuler, pasti menyimpan keunikan tersendiri. Banyak pertanyaan muncul di benak, di antaranya seperti apa wajah Islam  di negeri yang bermutasi menganut paham sekuler tersebut.
Selama dua minggu, kami, -- 14 orang dari STAIN Kediri, dan 14 orang dari UIN SA Surabaya--,  mengikuti workshop di Universitas Marmara, Fakultas Ilahiyat, mulai 30 November hingga 14 Desember 2013. Fakultas Ilahiyat adalah Fakultas keagamaan di Universitas tersebut.  Letak kampusnya lumayan jauh dari kampus pusat—tempat kami mondok--, sekitar 30 menit perjalanan naik mobil. Ada sekitar 4000 mahasiswa belajar di fakultas ini, termasuk beberapa orang dari Indonesia. Hebatnya, semua gratis, termasuk makan.
Namun yang paling mengesankan adalah pergaulan dan prilaku mahasiswa di sana. Dari segi pakaian, kita tidak akan menemukan mahasiswi berpakaian ketat, semisal celana jeans yang dipadu kaos lengan panjang di atas pinggul. Semua pakaiannya  panjang. Kalaupun memakai celana panjang, maka atasannya pasti di bawah lutut. Apakah dengan pakaian panjang tersebut mereka tidak tampak modis ? Wah, jangan ditanya. Remaja-remaja cantik tersebut selalu tampil modis sekalipun dengan pakaian tertutup rapat. Mulai dari jilbab, mode busana, hingga sepatu high heel, terlihat sangat trendi, dan dari bahan berkualitas. Tas yang dijinjingpun branded. Sulit menemukan mahasiswi menenteng tas berkelas Wonokromo. Minimal tas-nya berkelas Tunjungan Plaza. Beberapa yang saya temukan menjinjing tas berkelas Pasar Turi  adalah mahasiswi yang berasal dari Indonesia. Saking mempesonanya penampilan gadis-gadis cantik itu, seorang kawan (laki-laki) sampai memprotes Tuhan, “Ya Tuhan, kenapa dulu saya dilahirkan di Lamongan ? Kenapa bukan di Istanbul saja ?”.
Bagaimana dengan mahasiswanya ? Tidak beda. Remaja yang ganteng-ganteng itu—tidak kalah dengan Brad Pitt—juga tampil menawan dan sangat fashionable. Kalau ada di Indonesia, pasti sudah direkrut main sinetron.
Hebatnya, anak-anak muda yang tampan-tampan-dan cantik-cantik bak model itu, sangat menjaga prilaku dan etika pergaulan yang islami. Nyaris tidak kita temukan mahasiswi ngobrol asyik atau bercanda sambil jalan bareng dengan teman laki-lakinya. Atau kongkow-kongkow rame-rame sambil buka laptop. Apalagi sampai berboncengan laki-laki dengan perempuan. Mereka satu kelas, tapi duduknya tidak membaur. Kekaguman saya semakin menguat ketika saya masuk kantin. Tidak ada mahasiswa laki-laki dan perempuan yang duduk membaur. Laki-laki duduk dan ngobrol dengan sesama laki-laki. Perempuan duduk dan ngobrol dengan sesama perempuan. Dengan suara pelan, hampir berbisik. Luar biasa!
Di perpustakaan, para mahasiswa/i yang selalu tampil santun itu bebas membawa tas-nya masuk. Artinya, tidak akan ada yang mencuri buku di perpustakaan. Bahkan mereka dengan tenang meninggalkan tas-nya di perpustakaan, keluar untuk salat, atau makan, atau yang lain, dalam waktu lama, kemudian kembali lagi dalam keadaan aman. Sementara kami, karena bawaan dari Indonesia, mau ke toilet sebentar saja, sibuk menitipkan tas pada teman. Ketika di musholla pun, kami masuk toilet bergantian, karena menjaga tas dan sandal takut hilang. Walaupun dua minggu di sana, perasaan takut hilang itu tetap ada. Ya Allah, bawaan dari Indonesia.
Hormatnya kepada tamu juga luar biasa. Suatu ketika, pada acara bazar yang diselenggarakan oleh para mahasiswa kampus itu, saya dan beberapa kawan membeli kue-kue. Begitu saya membayar, kebetulan ada seorang dosen datang. Dengan serta merta beliau melarang mahasiswi tersebut menerima pembayaran itu dan berkata: “Tidak  boleh mengambil bayaran dari musafir”. Uang dikembalikan, kue kami terima, dan dosen itu yang membayarnya. Karena kebiasaan dari Indonesia, begitu ada gratisan, kue yang ‘dibeli’ ditambah lagi. Bahkan yang tadinya tidak ‘membeli’, jadi ikut-ikutan ‘membeli’.
Karena rasa penasaran, akhirnya kami bertanya kepada mereka tentang model pergaulan dan semua prilaku itu. Jawabannya:”Kami kan belajar syariat Islam ? Bukankah demikian yang diajarkan Islam?”. Masya Allah. Jawaban sederhana, tapi langsung menusuk jantung. Jawaban sederhana, tapi membangkitkan kesadaran bahwasanya  pendidikan itu seharusnya memang diarahkan untuk membangun karakter. Dan Fakultas Ilahiyat, Universitas Marmara, yang berdiri di tengah-tengah negeri sekuler itu mampu membuktikannya. Menghadirkan Islam di alam nyata, dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah negeri yang sedang memburu ambisi untuk menjadi bagian dari masyarakat Eropa. Bagaimana dengan kita ? Allah A’lam