Turki akhirnya
menjadi negeri pilihan untuk tujuan ‘mempelajari’ metodologi study Islam,
setelah Mesir yang menjadi tujuan semula, dilanda konflik tak kunjung usai.
Ternyata betul bahwa semua ada hikmahnya. Dua kali kami direncanakan berangkat
ke Mesir, dua kali pula batal.
Ternyata Tuhan punya kehendak lain. Dan kehendakNya betul-betul lebih baik. Setidaknya
menurut kami. Mengapa? Turki adalah negeri unik. Menjadi pusat pemerintahan
Islam selama kurang lebih 600 tahun,
kemudian secara drastis berubah menjadi negara sekuler, pasti menyimpan
keunikan tersendiri. Banyak pertanyaan muncul di benak, di antaranya seperti apa wajah Islam di negeri yang bermutasi menganut paham sekuler tersebut.
Selama
dua minggu, kami, -- 14 orang dari STAIN Kediri, dan 14 orang dari UIN SA
Surabaya--, mengikuti workshop di
Universitas Marmara, Fakultas Ilahiyat, mulai 30 November hingga 14 Desember 2013. Fakultas Ilahiyat adalah
Fakultas keagamaan di Universitas tersebut.
Letak kampusnya lumayan jauh dari kampus pusat—tempat kami mondok--,
sekitar 30 menit perjalanan naik mobil. Ada sekitar 4000 mahasiswa belajar di
fakultas ini, termasuk beberapa orang dari Indonesia. Hebatnya, semua gratis,
termasuk makan.
Namun
yang paling mengesankan adalah pergaulan dan prilaku mahasiswa di sana. Dari
segi pakaian, kita tidak akan menemukan mahasiswi berpakaian ketat, semisal celana jeans yang dipadu kaos lengan panjang di atas
pinggul. Semua pakaiannya panjang.
Kalaupun memakai celana panjang, maka atasannya pasti di bawah lutut. Apakah
dengan pakaian panjang tersebut mereka tidak tampak modis ? Wah, jangan
ditanya. Remaja-remaja cantik tersebut selalu tampil modis sekalipun dengan
pakaian tertutup rapat. Mulai dari jilbab, mode busana, hingga sepatu high heel, terlihat sangat trendi,
dan dari bahan berkualitas. Tas yang dijinjingpun branded. Sulit
menemukan mahasiswi menenteng tas berkelas Wonokromo. Minimal tas-nya berkelas
Tunjungan Plaza. Beberapa yang saya temukan menjinjing tas berkelas Pasar Turi adalah mahasiswi yang berasal dari Indonesia.
Saking mempesonanya penampilan gadis-gadis cantik itu, seorang kawan
(laki-laki) sampai memprotes Tuhan, “Ya Tuhan, kenapa dulu saya dilahirkan di
Lamongan ? Kenapa bukan di Istanbul saja ?”.
Bagaimana
dengan mahasiswanya ? Tidak beda. Remaja yang
ganteng-ganteng itu—tidak kalah dengan Brad Pitt—juga tampil menawan dan sangat
fashionable. Kalau ada di Indonesia, pasti sudah direkrut main sinetron.
Hebatnya,
anak-anak
muda yang tampan-tampan-dan cantik-cantik bak
model itu, sangat menjaga prilaku dan etika pergaulan yang islami. Nyaris tidak
kita temukan mahasiswi ngobrol asyik atau bercanda sambil jalan bareng dengan teman laki-lakinya. Atau kongkow-kongkow rame-rame
sambil buka laptop. Apalagi sampai berboncengan laki-laki dengan perempuan.
Mereka satu kelas, tapi duduknya tidak membaur. Kekaguman saya semakin menguat
ketika saya masuk kantin. Tidak ada mahasiswa laki-laki dan perempuan yang
duduk membaur. Laki-laki duduk dan ngobrol dengan sesama laki-laki. Perempuan
duduk dan ngobrol dengan sesama perempuan. Dengan suara pelan, hampir berbisik.
Luar biasa!
Di
perpustakaan, para mahasiswa/i yang selalu tampil santun itu bebas membawa tas-nya
masuk. Artinya, tidak akan ada yang mencuri buku di perpustakaan. Bahkan mereka
dengan tenang meninggalkan tas-nya di perpustakaan, keluar untuk salat, atau
makan, atau yang lain, dalam waktu lama, kemudian kembali lagi dalam keadaan
aman. Sementara kami, karena bawaan dari Indonesia, mau ke toilet sebentar
saja, sibuk menitipkan tas pada teman. Ketika di musholla pun, kami masuk
toilet bergantian, karena menjaga tas dan sandal takut hilang. Walaupun dua
minggu di sana, perasaan takut hilang itu tetap ada. Ya Allah, bawaan dari
Indonesia.
Hormatnya
kepada tamu juga luar biasa. Suatu ketika, pada acara bazar yang
diselenggarakan oleh para mahasiswa kampus itu, saya dan beberapa kawan membeli
kue-kue. Begitu saya membayar, kebetulan ada seorang dosen datang. Dengan serta
merta beliau melarang mahasiswi tersebut menerima pembayaran itu dan berkata:
“Tidak boleh mengambil bayaran dari
musafir”. Uang dikembalikan, kue kami terima, dan dosen itu yang membayarnya.
Karena kebiasaan dari Indonesia, begitu ada gratisan, kue yang ‘dibeli’
ditambah lagi. Bahkan yang tadinya tidak ‘membeli’, jadi ikut-ikutan ‘membeli’.
Karena
rasa penasaran, akhirnya kami bertanya kepada mereka tentang model pergaulan
dan semua prilaku itu. Jawabannya:”Kami kan belajar syariat Islam ? Bukankah
demikian yang diajarkan Islam?”. Masya Allah. Jawaban sederhana, tapi langsung menusuk jantung. Jawaban sederhana, tapi membangkitkan
kesadaran bahwasanya pendidikan itu
seharusnya memang diarahkan untuk membangun karakter. Dan Fakultas
Ilahiyat, Universitas Marmara, yang berdiri di tengah-tengah negeri sekuler itu
mampu membuktikannya. Menghadirkan Islam di alam nyata, dalam kehidupan
sehari-hari. Di tengah negeri yang sedang memburu ambisi untuk menjadi bagian
dari masyarakat Eropa. Bagaimana dengan kita ? Allah A’lam